BIOGRAFI IBNU SINA
Ibnu
Sina
adalah seorang ilmuwan Muslim yang terkenal di dunia. Ia seorang ilmuwan dengan
pemikiran-pemikiran yang cerdas mendasari ilmu kedokteran modern. Ia banyak
disebut sebagai "Bapak Kedokteran Modern." George Sarton menyebutnya
sebagai "Ilmuwan Paling Terkenal dari Islam dan Salah Satu yang Paling
Terkenal Pada Semua Bidang Tempat, dan Waktu". Ia lahir pada zaman
keemasan peradaban Islam, sehingga ia disebut sebagai tokoh Islam dunia.
Ibnu
Sina juga seorang penulis yang produktif, sebagian besar karyanya membahas
tentang filsafat dan pengobatan. Ia adalah satu-satunya filsafat besar
dalam Islam yang berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan
terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim hingga
beberapa abad. Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing
dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai Qanun yang
digunakan sebagai Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Saat
berusia 10 tahun dia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal
Al-Qur'an. Ia dibimbing oleh Abu Abdellah Natili, dalam mempelajari ilmu
logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Prophyry, Eucliddan
Al-Magest Ptolemus. Setelah itu dia juga mendalami ilmu agama dan Metaphysics
Plato dan Arsitoteles.
Suatu
ketika dia mengalami masalah saat belajar ilmu Metaphysics dari
Arisstoteles. Empat Puluh kali dia membacanya sampai hafal setiap kata yang
tertulis dalam buku tersebut, namun dia tidak dapat mengerti artinya. Sampai
suatu hari setelah dia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li
Aristho-nya Al-Farabi (870 - 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan
penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala ilmu Metaphysics.
Setelah
berhasil mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina merasa tertarik
untuk mempelajari ilmu kedokteran. Ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin
Yahya. Meskipun secara teori dia belum matang, tetapi ia banyak melakukan
keberhasilan dalam mengobati orang-orang sakit. Setiap kali menghadapi kesulitan,
maka ia memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, maka didalam tidurnya
Allah memberikan pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang sedang
dihadapinya.
Suatu
ketika saat Amir Nuh Bin Nasr sedang menderita sakit keras. Mendengar tentang
kehebatan yang dimiliki oleh Ibnu Sina, akhirnya dia diminta datang ke Istana
untuk mengobati Amir Nuh Bin Nasr sehingga kesehatannya pulih kembali. Sejak
itu, Ibnu Sina menjadi akrab dengan Amir Nuh Bin Nasr yang mempunyai sebuah
perpustakaan yang mempunyai koleksi buku yang sangan lengkap di daerah itu.
Sehingga membuat Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istana
yang terlengkap yaitu Kutub Khana.
Berkat
perpustakaan tersebut, Ibnu Sina mendapatkan banyak ilmu pengetahuan untuk
bahan-bahan penemuannya. Pada suatu hari perpustakaan tersebut terbakar dan
orang-orang setempat menuduh Ibnu Sina bahwa dirinya sengaja membakar
perpustakaan tersebut, dengan alasan agar orang lain tidak bisa lagi mengambil
manfaat dari perpustakaan itu.
Ibnu
Sina lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut
ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani,
Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman
Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju
oleh para ilmuwan Islam.
Pengembangan
ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi.
Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi,
Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Pada zaman Dinasti Samayid dibagian
timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian barat Iran dan
Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya.
Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu
pengetahun dunia Islam.
Saat
berusia 22 tahun, ayah Ibnu Sina meninggal dunia. Pemerintahan Samanid menuju
keruntuhan. Masalah yang terjadi dalam pemerintahan tersebut akhirnya
membuatnya harus meninggalkan Bukhara. Pertama ia pindah ke Gurganj, ia tinggal
selama 10 tahun di Gurganj. Kemudia ia pindah dari Gurganj ke Nasa, kemudian
pindah lagi ke Baward, dan terus berpindah-pindah tempat untuk mempelajari ilmu
baru dan mengamalkannya.
Shams
al-Ma’äli Qäbtis, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibnu Sina mengharapkan
menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh
pasukannya yang memberontak. Ia sendiri pada saat itu terkena penyakit yang
sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, ia bertamu dengan seorang
teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri di mana Ibnu Sina
belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis
untuk orang ini, dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga
dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.
Kemampuan Dalam
Bidang Kedokteran dan Filsafat
Dalam
bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit Thibb, dimana
ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap,
disusunnya secara sistematis. Kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama
beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini
mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam
penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12
masehi, kitab Al-Qanun diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku
tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun
adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam.
Ibnu
Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi.
Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan
filsafat yang masih belum terjawab sebelumnya. Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu
Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya
tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa.
Albertos
Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun
1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap
tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran
Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran
Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filsafat besar Yunani itu
dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari
tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para
pemikir Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar