Rabu, 28 Desember 2016

Sistematika Filsafat

Metode dalam Berfilsafat
Kata Metode berasal dari kata Yunani yaitu Methodos, sambungan kata depan Meta (ialah menuju, melalui, mengikuti, sesudah ) dan kata benda Hodos (ialah jalan, perjalanan,cara,arah) kata Methodos sendiri lalu berarti penelitian, metode, ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu ( Anton Bakker, 1984 : 10 ).
Metode adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Lantaran banyaknya metode ini, Runes dalam Dictionary of Philosophia sebagaimana dikutip oleh Anton Bakker menguraikan sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode-metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurut garis historis sedikitnya ada sepuluh metode yaitu sebagai berikut:
1. Metode Kritis: Socrates, Plato
                 Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog),membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.
2. Metode Intuitif: Plotinus, Bergson
                 Dengan jalan instrokspeksi intuitif, dan dengan pemakaian simbol-simbol diusahakan pembersihan intelektual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan fikiran. Bergson : dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3. Metode Skolastik: Aristoteles, Thomas Aquinas, Filsafat Abad Pertengahan
                 Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.
4. Metode Geometris: Rene Descrates dan pengikutnya
                 Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan  hakikat-hakikat “sederhana”(ide terang dan berbeda dari yang lain) ; dari hakikat-hakikat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5. Metode Empiris : Hobbes Locke, Berkeley, David Hume
                 Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar ;maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun secara geometris.
6. Metode Transendental : Immanuel kant, Neo- Skolatik)
                 Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis dislidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
7. Metode Fenomenolohis : Husserl, Eksistensialisme.
                 Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis ( reduction ), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
8. Metode Dialektis: Hegel, Marx
                 Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
9.Metode Neo-Positivistis
                 Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif ( esakta ).
10. Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein
                 Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis ( Anton Bakker, 1984 : 21-22 ).
  Ontologi
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang Ontologi. Yang tertua diantara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales.
Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Kata Ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being, dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being ( teori tentang keberadaan sebagai keberadaan ).
Louis O.Kattsoff dalam Elements of Filosophy mengatakan, Ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran ontology adalah pemikiran Thales, yang berpendapat airlah yang menjadi ultimate substance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.
   Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Sedangkan menurut Jujun S. Suariasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
Sidi Gazalba dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan,  ontology mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan. Karena itu ia disebut ilmu hakikat, hakikat yang bergantung pada pengetahuan. Dalam agama ontologi memikirkan tentang Tuhan.
Di dalam pemahaman Ontologi dapat diketemukan pandangan- pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
  1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Istilah Monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe.
Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran:
a. Materialisme
     Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani.
b. Idealisme
     Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
2. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
3. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macambentuk itu semuanya nyata.
4. Nihilisme
Nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternative yang positif. Istilah Nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fathers and Children yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia.
5. Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Kata Agnosticisme berasal dari bahasa GrikAgnostos yang berarti unknown. A artinya not, Gno artinya know.
  Epistemologi
          Istilah Epistemology dipakai pertama kali oleh J. F.Feriere yang maksudnya untuk membedakan antara dua cabang filsafat, yaitu Epistemologi dan Ontologi ( metafisika umum ). Epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan atau kebenaran dan logos artinya fikiran, kata atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori pengatahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi theory of knowledge.
a. Logika Material
              Istilah logika material sudah mengandaikan adanya ilmu pengetahuan lain yang disebut logika formal. Sesungguhnya logika material ini secara khusus hanya terdapat pada kepustakaan kefilsafatan Belanda. Logika formal besangkutaan dengan masalah kebenaran formal disebut juga keabsahan (jalan) pemikiran. Sedangkan logika material bersangkutan dengan kebenaran materiil, yang kadang-kaadang juga disebut kebenaran autentik atau otentisitas isi pemikiran.
b. Kriteriologia
              Istilah kriteriologia berasal dari kata kriterium yang berarti ukuran. Dalam hal ini yang dimaksud adalah ukuran untuk menetapkan benar tidaknya suatu pikiran atau pengetahuan tertentu.
c. Kritika Pengetahuan
              Kritika adalah sejenis usaha manusia untuk menetapkan, apakah sesuatu pikiran atau pengetahuan manusia itu sudah benar atau tidak benar dengan jalan meninjaunya secara mendalam.
d. Gnoseologia
              Gnoseologia berarti ilmu pengetahuan atau cabang fisafat yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pengetahuan, khususnya mengenai pengetahuan yang bersifat keilahian.
e. Filsafat Pengetahuan
              Filsafat Pengetahuan yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.
Mengenai batasan Epistemologi, seperti istilah-istilah dalam filsafat, istilah inipun tidak sedikit yang memberikan batasan dan setiap batasan hampir mempunyai corak yang sedikit berlainan ( Surajiyo, 2007 : 25 ).
Menurut J.A.  Niels Mulder mengatakan bahwa Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari soal tentang watak, batas-batas dan belakunya dari ilmu pengetahuan.
Menurut Surajiyo ( 2007 : 26 ) mengatakan bahwa epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Jadi, objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Oleh karena itu, sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan, asal-usul pengetahuan.
Pemahaman aspek epistemologi pendidikan berfungsi sebagai landasan dasar pengembangan potensi intelektual ( Suhartono, 2009 : 117 ).
  Aksiologi
Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Salam, 1997:168).
Sedangkan arti aksiologi yang terdapat di dalam bukunya Jujun S. SuriasumantriFilsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang inimelahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan.
Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupansosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik ( Jalaluddin dan Idi, 1997: 106).
Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value dan Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valution:
  1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak.
  2. Nilai sebagai kata benda konkret.
  3. Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, member nilai, dan dinilai.
Dari definisi-definisi mengenai aksiologi diatas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Makna “etika” dipakai dalam dua bentuk arti. Pertama, etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia. Kedua, etika merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusimanusia yang lain.
Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan pula bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar