A. Definisi Filsafat
Adapun
defenisi filsafat menurut para ilmuwan yaitu :
1.
Plato (427-347 M) → Filsafat tidak lah lahir dari pengetahuan tentang segala
yang ada
2.
Aristoteles (384-322 M) → Filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda
3.
Al-Kindi (800-870) → Filsafat merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat
segala yang ada sejauh mungkin bagi m anusia
4.
AL-Farabi (872-950) → Filsafat itu adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud
dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya
5.
Ibnu Sina (980-1037) → hal pertama yang dihadapi seorang filsuf adalah bahw
ayang ada berebeda-beda, terdapat ada yang hanya “mungkin ada”
6.
Immanuel Kant (1724-1804) → filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala
pengetahuan yang di dalamnya mencakup empat persoalan, yaitu :
1. Apakah yang dapat kita ketahui?
(dijawab oleh metafisika)
2. Apakah yang boleh kita kerjakan?
(dijawab oleh etika)
3. Sampai dimanakah pengharapan
kita? (dijawab oleh agama)
4. Apakah yang dinamakan manusia?
(dijawab oleh anthroposlogi)
7.
Prof Drs. Hasbullah Bakry, S.H → filsafat ialah ilmu yang menyelidiki segala
sesuatu dengan mendalam mengenai ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai
pengetahuan itu.
8.
Prof. Dr. N Driyarkara S. J→ filsafat adalah pikiran manusia yang radikal
artinya dengan mengesampingkan pendirian-pendirian dan pendapat-pendapat “yang
diterima saja” mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari
lain-lain pandangan dan sikap praktis.
9.
Ciceor → Filsafat sebagai seni kehidupan
10.
Rene Descartes → filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan,
alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya
11.
Francis Bacon → filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu dan filsafat
menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya
12.
John Dewey → filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungakap mengenai
perjuangan manusia secara terus meners dalam upaya melakukan penyesuaian
berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap
kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politi yang baru dan tidak
sejalan dengan wewenang yang diakui.
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatna pemikiran manusia
memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menmukan eksistensinya. Dalam
kegiatan ini manusia akan berusaha untuk mencapai kearifan dan kebajikan.
Kearifan merupakan buah yang dihasilkan filsfar dari usaha mencapai
hubungan-hubungan antara berbagai pengetahuan, dan menentukan implikasinya baik
secara yang tersurat maupun yang tersirat dalam kehidupan.
Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir
dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah
apabila berpikir tersebut mengandung 3 ciri, yaitu radikan, sistematis dan
universal. Seperti yang dijelaskan oleh Sidi Gazalba (1973:43) :
Berpikir radikan, sampai ke
akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir.
Berpikir itu tidak separuh-paruh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai
ke ujungnya. Berpikir sistemati adalah berpikir logis yang bergerak selangkah
demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan
saling hubungan yang teratur. Berpikir universal tidak berpikir khusus, yang
hanya terbatas kepada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan.
Berdasarkan
pada tingkat”berfikir” kita terlihat bahwa filsafat merupakan suatu uapya untuk
mampu melakukan kajian secara mendasar sehingga dengan kajian yang mendasar
tersebut dimungkinkan untuk dapat putusan tentang suatu secara bijaksana.
Manusia selalu berpikir akan sesuatu yang sudah menjadi pengetahuannya, yang
aman apengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan bagaimana usaha-usaha untuk
mencapainya. Dengan ini manusia selalu berusaha untuk bertujuan menyelidiki
hakekat yang sebenarnya. Karena filsafat merupakna ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang maan terdapat dalam persoalan-persoalan yang terjadi
dalam keseharian kita sebagai manusia.
Sesuai
dengan makna filsafat, berfilsafat adalah berfiki dan sampai kepada spikulasi.
Untuk itu filsafat menghindari oleh fiki dan sadar, yang berarti teliti dan
teratur. Dimna manusia menegaskan pikiranya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan
hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersala dari alam, baik yang
bersal dari dalam dirinya atau di luarnya
Dapat disimpulkan
bahwa berfilsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk
mencapai kebijakan dan kearifan. Filsafat berusaha menuangkan dan membuat garis
besar dari masalah-masalah dan peristiwa yang pelik dari pengalaman umat
manusia.
B. Subjek/ Objek Filsafat
Subjek
filsfat adalah seseroang yagn berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan
sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka filsafatpun
(sudut pandangannya) ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat
a.
Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
1. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu
Tuhan Pencipta
2. Ada yang tidak harus ada, disebut
dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu
ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)
b. Obyek Formal/ Sudut pandangan
Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris,
karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai
konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam
semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius
dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.
Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat
itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan
menurut sistem”.
1. Maka keseluruhan sarwa sekalian
itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat
2. Ada pula pikiran itu sendiri yang
terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya
3. Pemikiran itupun adalah bahagian
daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat
dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian
Menurut
Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :
“ Tiap-tiap manusia yang mulai
berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi
beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh
diberi nama persoalan-persolan pokok”.
Louis Kattsoff mengatakan lapangan
kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputisegala pengetahuan manusia
serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia.
Dr. A. C Ewing mengatakan bahwa
kebenaran, materi, budi, hubungan materi dan budi, ruang dan waktu, sebab,
kemerdekaan, monisme lawan fluarlisme dan tuhan adalah termasuk
pertanyaan-pertanyaan poko filsafat
C. Pentingnya Filsafat Bagi Manusia
Filsafat mencoba memadukan hasil-hasil dari berbagai sains
yang berbeda ke dalam suatu pandangan dunia yang konsisten. Filosof cenderung
untuk tidak menjadi spesialis, seperti ilmuwan. Ia menganalisis benda-benda
atau masalah dengan suatu pandangan yang menyeluruh. Filsafat tertarik terahdap
aspek-aspek kualitatif segala sesuatu, terutama berkaitan dengan makna dan
nilai-nilainya. Filsafat menolak untuk mengabaikan setiap aspek yang otentik
dari pengalaman manusia.
Kita sangat memerlukan suatu ilmu yang sifatnya memberikan
pengarahan/ ilmu pengarahan. Dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu
kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat
diperlukan oleh umat manusia. Hanya ilmu filsafatlah yang dapat diharapkan
mampu memberi manusia suatu integrasi dalam membantu mendekatkan manusia pada
nilai-nilai kehidupan untuk mengenai mana yan gpantas kita tolak, man ayang
pantas kita tujui, mana yang pantas kita ambil sehinga dapat memberikan makna
kehidupan. Ada beberapa pentingnya filsafat bagi manusia yaitu :
1. Dengan belajar filsafat
diharapkan akan dapatmenambah ilmu pengetahuan, karena dengan bertambahnya ilmu
akan bertambah pula cakrawala pemikiran dan pangangan yang semakin luas
2. Dasar semua tindakan.
Sesungguhnya filsafat di dalamnya memuat ide-ide itulah yang akan membawa
mansuia ke arah suatu kemampuan utnuk merentang kesadarannya dalam segala
tindakannya sehingga manusia kaan dapat lebih hidup, lebih tanggap terhadap
diri dan lingkungan, lebih sadar terhadap diri dan lingkungan
3. Dengan adanya perkembangan ilmu
pengethauan dan teknologi kita semakin ditentang dengan kemajuan teknologi
beserta dampak negatifnya, perubahan demikian cepatnya, pergeseran tata nilai,
dan akhirnya kita akan semakin jauh dari tata nilai dan moral
Tidak ada komentar:
Posting Komentar