Air sebagai Prinsip
Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar
(dalam bahasa Yunani arche) segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan
dasar dari segala-galanya yang ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan
daya kreatifnya sendiri, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu
tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi
Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk
hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air
untuk hidup.Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat,
cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.
Selain itu, ia juga mengemukakan pandangan bahwa bumi
terletak di atas air. Bumi dipandang
sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian terapung-apung di
atasnya.
Pandangan tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya
memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga
benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi
Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu
menggerakkan besi.
Teorema Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal karena menyumbangkan
apa yang disebut teorema Thales, kendati belum tentu seluruhnya merupakan buah
pikiran aslinya.Teorema Thales berisi sebagai berikut:
·
1. Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh diameternya.
·
2. Sudut bagian dasar dari sebuah segitiga samakaki adalah sama besar.
·
3. Jika ada dua garis lurus bersilangan, maka besar kedua sudut yang saling
berlawanan akan sama.
·
4. Sudut yang terdapat di dalam setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
·
5. Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta sudut-sudut yang
bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.
Pandangan Politik[
Berdasarkan catatan Herodotus, Thales pernah
memberikan nasihat kepada orang-orang Ionia yang sedang terancam oleh serangan
dari Kerajaan Persia pada pertengahan abad ke-6 SM. Thales
menyarankan orang-orang Ionia untuk membentuk pusat pemerintahan
dan administrasi bersama di kota Teos yang memiliki posisi sentral di seluruh
Ionia. Di dalam sistem
tersebut, kota-kota lain di Ionia dapat dianggap seperti distrik dari
keseluruhan sistem pemerintahan Ionia. Dengan demikian,
Ionia telah menjadi sebuah polis yang bersatu dan tersentralisasi.
Referensi
1. Simon Petrus L.
Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal.
21-23.
2. Juhaya S. Praja.
2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana. Hal.
71-75.
3. (Indonesia)Linda Smith, William
Raeper. 2000. Ide-Ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang.
Yogyakarta: Kanisius. Hal 10-11.
4. . Bertens.
1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakart: Kanisius. Hal. 26-28.
5. (Inggris) Richard
McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell
Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell
Publishing. P. 5-6.
6. (Inggris) Keimpe Algra.
1999. "The Beginning of Cosmology". In The Cambridge
Companion to Early Philosophy. A.A. Long (Ed.). London: Cambridge
University Press. P. 45-65.
7. (Inggris) Jonathan Barnes.
2001. Early Greek Philosophy. London: Penguin.
8. (Inggris) W.K.C. Guthrie.
1985. A History of Greek Philosophy Volume 1. London: Cambridge
University Press.
9. (Inggris) Kurt A.
Raaflaur. 2005. "Poets, lawgivers, and the beginnings of political
reflection in archaic Greece". In The Cambridge History of Greek
and Roman Political Thought. Cristopher Rowe (Ed.). P. 43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar