Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi,
maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis. Bagi orang yang menganut agama
tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan
wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah
pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang
dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari
pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran
tentang Tuhan.
Penelitian tentang Allah dalam
Ilmu Filsafat
Penelaahan tentang Allah dalam filsafat lazimnya disebut teologi
filosofi. Hal ini bukan menyelidiki tentang Allah sebagai obyek, namun
eksistensi alam semesta, yakni makhluk yang diciptakan, sebab Allah dipandang
semata-mata sebagai kausa pertama, tetapi bukan pada diri-Nya sendiri, Allah
sebenarnya bukan materi ilmu, bukan pula pada teodise.
Jadi pemahaman Allah di dalam agama harus dipisahkan Allah dalam filsafat.
Namun pendapat ini ditolak oleh para agamawan, sebab dapat menimbulkan kekacauan
berpikir pada orang beriman. Maka ditempuhlah cara ilmiah untuk membedakan dari
teologi dengan menyejajarkan filsafat ketuhanan dengan filsafat lainnya
(Filsafat manusia, filsafat alam dll). Maka para filsuf mendefinisikannya
sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai dengan lebih baik, dan secara refleksif, realitas tertinggi yang dinamakan Allah itu, ide dan gambaran Allah melalui sekitar diri kita.
Studi tentang tabiat Allah dan
kepercayaan
Ide
tentang Allah pada orang beragama secara umum biasanya dijelaskan dalam tabiat
Allah; "Yang Maha Tinggi" (Anselmus mengatakan: "Allah adalah
sesuatu yang lebih besar dari padanya tidak dapat dipikirkan manusia)Yang Maha
Besar, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Baik dan sebagainya.
Menurut
Anselmus, ajaran-ajaran kristiani bisa dikembangkan dengan rasional, jadi tanpa
bantuan otoritas lain (Kitab Suci, wahyu, ajaran Bapa Gereja). Bahkan ia bisa
menjelaskan eksistensi Allah dengan suatu argumen yang bisa diterima bahkan
juga oleh mereka yang tidak beriman. Eksistensi Allah dimulai dari pikiran
manusia yang menerima begitu saja ajaran agama, namun juga menanyakannya dari
siapa dan mengapa dirinya ada, alam alam, dan Allah sendiri bisa diterima
adanya.
Beberapa
sikap orang beriman dalam mencari pencerahan akan adanya Allah:
·
Manusia yang menerima begitu saja
dikarenakan ajaran turun-temurun dari
para pendahulunya, manusia ditekankan harus percaya, bahkan tanpa
bertanya.
·
Manusia mulai bertanya mengapa
dirinya ada?[ Mengapa alam
ada?
·
Kemudian menanyakan Allah terkait;
siapa, isinya, dan mengapa Dia ada?
Semua
jawaban itu akan dijawab oleh para ahli dalam bidang yang disebut teologi; theos dan logos, ilmu tentang
hubungan manusia dan ciptaan dengan ALlah. Jawaban-jawabannya bisa sangat
beragam, tergantung agama dan kepercayaan yang mana yang
memberikan jawaban. Namun setidaknya ada beberapa kesimpulan yang mereka
berikan sebagai jawaban:
-
Allah ada, dan adanya Allah itu dapat dibuktikan secara rasional juga; - Allah
ada, tetapi tidak dapat dibuktikan adanya; - tidak dapat diketahui apakah Allah
benar-benar ada; - Allah tidak ada, dan ketentuan ini dapat dibuktikan juga.
Oleh
karena itu filsafat berusaha membuktikan keyakinan-keyakinan manusia itu
melalui berbagai jalan; metafisika, empirisme, rasionalisme, positivisme, spiritualisme dll.
Teisme adalah faham yang mempercayai
adanya Tuhan. Berasal dari bahasa Yunani Θεός=Teos dan
νόμος=hukum=aturan=paham, jadi sebuah aturan atau paham tentang Tuhan atau
pengakuan adanya Tuhan.
Pemikir yang mempercayai adanya
Allah
Santo Agustinus(354-430)
Santo Agustinus
percaya bahwa Allah ada dengan melihat sejarah dari drama penciptaan, yang melibatkan Allah dan manusia.
Allah menciptakan daratan untuk manusia, menciptakan manusia (Adam) yang berdosa melawan Allah. Lalu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Kemudian setelah manusia
berkembang, mereka berdosa lebih lagi dan dihukum dengan air bah dalam sejarah Nuh. Orang-orang Yahudi yang diberikan perjanjian Allah ternyata tidak dapat
memeliharanya sehingga dihukum melalui bangsa-bangsa lain. Lalu Allah yang maha kasih menebus manusia
melalui Yesus Kristus. Dari sejarah ini Allah dapat selalu ada di tengah-tengah
manusia. Memang Agustinus adalah Bapa gereja, Uskup dari Hippo yang membela eksistensi Allah dari pandangan-pandangan lain
yang ingin meruntuhkan paham teisme. Tuhan didefinisikan dari sifat-sifatnya; maha tahu, maha
hadir, kekal, pencipta segala sesuatu. Namun lebih lagi, Tuhan bukan ada begitu
saja, namun selalu terhubung dalam peristiwa-peristiwa besar manusia.
Thomas Aquinas (1225-1274)
Santo
Thomas Aquinas
Thomas Aquinas menggabungkan pemikiran Aristoteles dengan Wahyu Kristen. Kebenaran iman dan rasa pengalaman bukan hanya
cocok, namun juga saling melengkapi; beberapa kebenaran, seperti misteri dan inkarnasi dapat diketahui melalui wahyu,
sebagaimana pengetahuan dari susunan benda-benda di dunia, dapan diketahui melalui rasa pengalaman;
seperti kesadaran manusia akan eksistensi Allah, baik wahyu maupun rasa
pengalaman dipakai untuk membentuk persepsi tentang adanya Allah.
Thomas
Aquinas terkenal dengan lima jalan (dalam Bahasa Latin; quinque viae ad deum)
untuk mengetahui bahwa Allah benar-benar ada.
·
Jalan 1 adalah gerak, bahwa
segala sesuatu bergerak, setiap gerakan pasti ada yang menggerakkan, namun
pasti ada sesuatu yang menggerakkan sesuatu yang lain, namun tidak digerakkan
oleh sesuatu yang lain, Dialah Allah.
·
Jalan 2 adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai
sebabnya, namun ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab pertaman,
Allah.
·
Jalan 3 adalah keniscayaan,
bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa ada dan ada yang bisa tidak ada
(contohnya adalah benda-benda yang dahulu ada ternyata ada yang musnah, namun
ada juga yang dulu tidak ada ternyata sekarang ada), namun ada yang selalu ada
(niscaya) Dialah Allah.
·
Jalan 4 adalah pembuktian
berdasarkan derajat atau gradus melalui perbandingan, bahwa dari
sifat-sifat yang ada di dunia ( yang baik-baik) ternyata ada yang paling baik
yang tidak ada tandingannya (sifat Allah yang serba maha) Dialah Allah.
Jalan
5 adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi mempunyai
tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah ada yang
mengaturnya, Dialah Allah.
Descartes (1596-1650)
Rene Descartes
memikirkan Tuhan bermula dari prinsip utamanya yang merupakan “gabungan antara pietisme Katolik dan sains. Descartes adalah seorang filsuf rasionalis yang terkenal
dengan pemikiran ide Allah. Tantangan yang mendorong Descartes adalah
keragu-raguan radikalnya, The Methode of Doubt , bahkan menurutnya,"indera
bisa saja menipu, Yang Maha Kuasa dalam bayangan kita juga bisa saja menipu,
sebab kita yang membayangkan".
Dalam menjawab skeptisisme orang-orang pada masanya, maka
dalam tinggalnya di Neubau, dekat kota Ulm - Jerman, disebut sebagai “perjalanan
menara”, kata lain dari meditasi yang dilakukan, dia menemukan Cogito,
ergo sum tahun 1618. Karena orang pada zamannya meragukan apa yang mereka
lihat, maka hal ini dipatahkan oleh Descartes bahwa apa yang dipikirkan saja
sebenarnya sudah ada, minimal di pikiran.
Orang
bisa menyangkal segala sesuatu, namun ia tidak bisa menyangkal dirinya sendiri.
Jadi Allah di sini juga demikian, Allah sudah ada dengan sendirinya, bahkan
lebih jauh Descartes mencari bukti-bukti empiris yang dia warisi dari para
pendahulunya.
Keterbukaan
untuk mengemukakan ide dalam pikiran, maka segala sesuatu yang dapat dipikirkan
pasti bisa ada. Alkitab salah satu bukti eksistensi Allah, kemudian juga relasi
bahwa manusia, binatang, malaikat, dan obyek-obyek lain ada karena natural light yang adalah
Allah sendiri.
Filsafat Ketuhanan menurut Descartes adalah berawal dari fungsi iman, yang
pada akhirnya berguna untuk menemukan Allah. Tanpa iman manusia cenderung
menolak Allah. Ada dua hal yang bisa ditempuh agar Aku sampai pada
Allah, 1. sebab akibat, bahwa dirinya sendiri (manusia) pasti diakibatkan oleh
penyebab pertama, yaitu Allah. Jalan yang kedua adalah secara ontologis, yang
diwarisinya dari Anselmus. Allah yang ada itu tidak mungkin berdiri sendiri,
tanpa ada kaitan dengan suatu entitas lain, maka Allah pasti ada dan
bereksistensi.[ Maka Allah
yang ada dalam ide Descartes sempurna sudah, bahwa Dia ada dan dapat diandalkan
dalam relasi dengan entitas lainnya itu.
Imanuel Kant (1724-1804)
Immanuel
Kant dengan kata-kata "Langit berbintang di atasku dan hukum moral di
batinku"
Ajaran
Kant tentang Allah ditemui dalam hukum moralnya melalui beberapa tahap:
1.
Allah adalah suara hati,
2.
Allah adalah tujuan moralitas,
3.
Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak baik demi
kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan sempurna. Menurut Kant ada tiga
jalan untuk membuktikan adanya Allah di luar spekulasi belaka,
dan
hal ini dimungkinkan:
·
dimulai dari menganalisa pengalaman
kemudian menemui kualitas dari sense dunia kita, lalu meningkat menjadi
bukum kausalitas mencapai penyebab di luar dunia.
·
berdasar hal pertama, kita masih
pada tataran pengalaman yang tidak bisa dijelaskan.
·
di luar konsep-konsep itu, manusia
memiliki a priori dalam rasionya, dan itu menjadi penyebab yang memang ada.
Lalu
dari usaha dari pengalaman dianalisa dengan a priori (pemikiran awal sebelum
membutktikan sesuatu) dalam otak kita, kita membagi tiga bentuk definisi atas
pengalaman; Psikologi-teologi, kosmologi dan ontologi. Dari hal yang dialami (empiris)
menuju transendensi; bahwa manusia hanya akan berspekulasi
saja. Kritik Kant terhadap Thomas Aquinas juga mengenai hal-hal spekulatif,
padahal Allah nyata adanya. Di sini Kant kemudian mengakui bahwa Allah sebagai
pemberi a priori dan pengalaman itu sendiri tidak terdapat dalam baik
pengalaman maupun a priori, namun melampaui hal itu. Maka Kant sangat terkenal
dengan kata-katanya '"Langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam batinku".Di sinilah iman
diperlukan, sebab Allah pada kenyataannya tidak bisa dibuktikan hanya dengan
pengalaman inderawi semata. Allah melampaui hal-hal
rasio murni.
Hegel (1770-1831)
Hegel juga disebut filsuf idealisme
Jerman. Ajaran yang terkenal dari Hegel adalah dialektika, di mana ada dua hal
berbeda (bahkan kontras) yang bertemu dan membentuk hal baru. Pertama-tama
Hegel membedakan antara rasio murni (dalam Kant) sebagai kesadaran manusia,
namun ada yang lebih dari itu yaitu intelek. Intelek itu senantiasa mengerjakan kinerja rasio dan
intelektualitas sehingga dialektika terus terjadi. Roh Absolut yang adalah
intelek itu bekerja dan menyatakan dirinya dalam proses sejarah manusia.
Pekerjaan Roh itu dapat mencapai tujuannya
dalam alam semesta ketika terjadi dialektika antara subjek dan objgel
berpendapat Allah di dalam agama Kristen juga bekerja seperti peristiwa reformasi yang sebenarnya merupakan peristiwa
pemulih atau pengembali keadaan manusia menjadi baik kembali. Dari
peristiwa-peristiwa itu maka Allah menurut Hegel dapat diartikan dalam tiga
tahap: 1. Segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah adalah proses perjalanan
Roh (Allah) yang menemukan dirinya sendiri 2. Melalui manusia dengan
kesadarannya, Roh itu menemukan dirinya (peristiwa revolusi oleh Napoleon
misalny) 3. Sehingga terjadi keselarasan arah gerak manusia dan arah gerak Roh
dalam emansipasi dan kebebasan manusia, untuk itu Roh akan memakai
nama "Akal budi". Namun Allah yang dinyatakan Hegel sebenarnya
terikat pada manusia yang berproses dalam sejarah.
Schleiermacher (1768-1834)
Schleiermacher
adalah penganut Kant, namun baginya Allah lebih baik
tidak ditelusuri dengan metafisika belaka, namun perlu dihayati
kehadirannya, yaitu dengan kontemplasi. Baginya, Allah yang tidak bisa
ditangkap inderawi tidak bisa juga dilacak dengan rasio murni. Istilah yang dipakai oleh Schleiermacher untuk Allah
adalah "Sang Universum". Jika Kant mengenal Allah sebagai pemberi hukum moral yang melampaui rasionya, Schleiermacher menganggap Allah yang dimaksud Kant tidak memadai dalam kehidupan manusia,
sebab Allah hanya pemberi ganjaran
kepada orang yang baik dan penghukum orang yang kurang baik.
Sebab
Allah, bagi Schleiermacher tidak mungkin memberi hukuman kekal kepada manusia
lantaran ia tidak sempurna, hal ini dikarenakan bahwa manusia diciptakan Allah
bukan agar ia sempurna, melainkan agar ia berikhtiar mencapai kesempurnaan itu.
Scleiermacher
mendekati Allah bukan dari teori spekulatif, bukan dengan pendekatan moral-praktis, melainkan pendekatan intuitif-batin,
dalam bahasanya melalui kontemplasi dan perasaan.
"Di sinilah agama merenungkan Sang Universum, di dalam caranya
mengekspresikan diri dan tindakannya, agama ingin mendegarkan bisikan suara
Sang Universum itu dengan khidmat.
Dalam
kepasifan anak-anak, agama ingin ditangkap dan dipenuhi oleh daya
pengaruhnya" Agama adalah Sang Universum sendiri. Sang Universum ditangkap dari alam dunia yang mamanifestasikannya. Namun alam dunia bukanlah Sang
Universum yang berdiri sendiri, namun tetap memanifestasikan alam. Pembedaan ini
melaui dua tahap; 1. Alam adalah wahyu Allah, dan ditangkap oleh sanubari manusia, 2. wahyu yang
lebih tinggi dan lebih baik adalah manusia yang menurut Schleiermacher tidak
terbagi-bagi dan tidak terbatas, namun bereksistensi. Dalam aktivitas umat
manusia itulah Allah menyatakan diri, alam diresapi oleh Yang Ilahi. Namun manusia bukanlah Allah sendiri. Maka tugas
agama adalah mencari menemukan Allah yang ada di luar dirinya. Agama harus
tinggal dengan pengalaman-pengalaman langsung untuk mencari Allah dan mencari
keterhubungannya secara menyeluruh, bukan berfilosofi.
Alfred North Whitehead (1861-1947)
Alfred North Whitehead dijuluki sebagai bapak filsafat maupun teologi
proses. Pemikirannya tergolong abstrak karena pengaruh bidang yang digelutinya,
matematika dan pengetahuan empirisme mengenai alam yang didapatkannya dari
fisika terapan. Dalam bukunya tentang Bagaimana Agama Terjadi (1926) dia
menyatakan;
·
Filsafat Proses
Whitehead.
Filsafat
prosesnya memakai dua pendekatan;
1. Prinsip proses
2.
Prinsip kreatifitas.
Dari
prinsip ini maka proses dibedakan dalam dua:
1.
Prinsip bagi proses yang bersifat mikrokopis
(konkresi) adalah asas yang memungkinkan lahirnya wujud aktual baru dari
aktual-aktual lama yang sudah penuh.
2.
Prinsip bagi proses yang bersifat makrokopis
(objektifikasi) yang memungkinkan sesuatu yang sudah penuh be
rubah
dan menjadi datum lagi.
Prinsip
kreatifitas itu disimpulkan secara logis berdasarkan analisisnya atas satua
aktual sebagai wujud ciptaannya.
·
Allah dalam Filsafat proses Whitehead
Proses
kreatifitas dan pembaruan dari satuan aktual-aktual terus terjadi, salah satu
partisipannya adalah Allah, namun Dia yang paling menonjol karena dia adalah
yang awali dan yang akhiri.
1.
Yang awali : Allah memiliki dua peran
sekaligus yaitu sebagai dasar awali yangyk adanya tatanan dalam seluruh jagat
raya dan sebagai dasar munculnya kebaruan dalam perwujudan suatu peristiwa
aktual.
2.
Yang akhiri: Allah sebagai penyerta yang
tanggap dan menyelamatkan.
Jadi
Tuhan (Allah) bagi Whitehead memiliki
3 peran yang disebut di atas, dengan begitu
dia bisa mengendalikan setiap perubahan yang terjadi atas aktual-aktual lain
dan mengakhirinya dengan baik.
Deisme
Deisme
dianalogikan seperti Tukang Jam, yang menciptakan jam secara teratur dan
membiarkannya berjalan sendiri.
Deisme adalah pandangan khas tentang Allah
di masa Pencerahan, berasal dari deus yang
artinya Allah. Namun pandangan ini berbeda dengan teisme, sebab Allah dipercaya
hanya pada waktu penciptaan, selanjutnya tidak berhubungan dengan dunia lagi
karena dunia yang sudah teratur dari semula. Allah dianalogikan seperti
pencipta arloji yang bisa berjalan sangat teratur tanpa campur tangan
penciptanya. Jadi Deisme hanya percaya Tuhan pertama kali,
setelah itu dianggap tidak ada. Paham ini dianggap sebagai benih dari munculnya
pandangan ateisme yang secara terbuka menyangkal
adanya Tuhan. Pandangan yang muncul pada abad 18 di Perancis.
Agnostisisme
Agnostisisme
adalah paham manusia yang tidak mau tahu atau tidak tahu tentang adanya Tuhan.
Namun hal ini lebih disebabkan karena kebuntuan pemikiran untuk mendefinisikan
Tuhan. Bagi para filsuf ini, Tuhan di berada di luar Jangkauan pemikiran
manusia.
Ateisme
Ateisme berari penyangkalan adanya Allah.
Namun arti tentang Allah yang disangkal adanya, tidak sama dengan pandagan
semua orang, oleh karenanya arti ateisme berbeda-beda juga. Lima model ateisme
yang diuraikan Magnis Suseno adalah ateisme dalam diri Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud
dan Jean Paul Sartre.
Scientisme merupakan bagian dari
Ateisme
Scientisme, sesuai dengan dogma rasionalis, memandang inteligensi
manusia sebgai ukuran seluruh inteligibilitas, scientisme membatasi rasionalisme sendiri dalam batas-batas
pengetahuan saja, sehingga roh manusia sendiri direduksi sampai
dimensi ilmiah saja. Segala sesuatu dipandang sebagai obyek yang dapat diukur,
bahkan subyek pada akhirnya nanti dibendakan juga. Maka pada akhirnya
scientisme menolak metafisika, sehingga apa yang dipikirkan secara metafisik
dibendakan begitu saja, dan ini adalah bentuk ateisme. Problem lebih lanjut
adalah scientisme melawan pemikiran agama dan iman. Hal ini terjadi pada masa Galilei yang mengemukakan tentang bumi yang
diistilahkan geo-sentris.
Hal
lain yang kemudian muncul juga pada Charles Darwin dengan teori evolusi yang menyangkal kisah penciptaan
manusia dalam naskah Alkitab.
Ludwig Feuerbach
Ateisme menurut Feuerbach (1804-1872)
adalah memandang Tuhan dalam agama hanya sebagai proyeksi dari kehendak manusia saja. Dia menolak pandangan Hegel yang menyatakan
Tuhan mengungkapkan diri dalam kesadaran manusia. Baginya, yang nyata bukan lah
Tuhan, yang nyata adalah manusia. Tuhan hanyalah proyeksi manusia yang mendamba
sifat-sifat yang tidak dapat dicapainya.
Kehendak
manusia untuk berkuasa, serba tahu, ada di mana-mana, dan tidak terikat waktu
itu kemudian dilemparkannya pada "hal lain" yang adalah Tuhan.
Sebab
kepastian yang nyata adalah yang dapat di tangkap inderawi, yaitu realitas
manusia. Pandangan seperti ini nanti akan masuk dalam filsafat meterialisme.
Kebaikan pandangan Feuerbach ini adalah menyatakan hakekat manusia untuk
kreatif, berbelas kasih, baik, saling menyelamatkan dsb. Aneh bila manusia
menyembah Tuhan yang adalah dirinya sendiri, maka manusia seharusnya menarik agama
ke dalam dirinya sendiri supaya ia menjadi kuat, baik, adil dana maha tahu.
Karl Marx
Menurut
Karl Marx, agama adalah candu masyarakat, karena agama, masyarakat menjadi
tidak maju dan bersikap rasional. Agama yang dimaksud
Marx adalah agama Kristen Ateisme yang diajarkan Marx adalah
ateisme modern.Agama yang mengajarkan Tuhan yang serba bisa hanya menipu dan
menyesatkan masyarakat. Marx mengkritik Feuerbach yang hanya menyatakan bahwa
Tuhan adalah khayalan, namun tidak mencari sebabnya. Bagi Marx sebab yang
diberikan adalah manusia lari kepada Tuhan karena penindasan yang mereka terima
dari masyarakat kelas yang dikritiknya.
Menurutnya
agama hanya menjadi penghalang manusia untuk menyangkal dan memperbaiki
hidupnya yang sedang ditindas, seandainya Tuhan dan agama tidak ada, maka
manusia bisa hidup bebas dan bermartabat. Di sinilah Tuhan sekiranya dicoret
karena tidak diperlukan. Manusia seharusnya menolak kapitalisme yang sedang menindas mereka.
Sigmund Freud
Filsafat
Ketuhanan dalam pandangan Sigmund Freud dengan terori psikoanalisnya
dimulai denan pertanyaan, "Apakah kepercayaan akan Allah dapat
dipertanggungjawabkan?" Hal ini berawal dari analisanya tentang
perkembangan manusia yang mempercayai agama yang terkadang tidak mencari
kebenaran-kebenaran di dalamnya. Manusia yang hanya menerima begitu saja
agama-agama yang diajarkan kepadanya. Ide Allah hanyalah ilusi, namun begitu
dibutuhkan manusia seperti seorang manusia yang membutuhkan seorang bapak yang
melindunginya.
Namun
Freud mengajukan pertanyaan selanjutnya,"Apakah agama benar-benar baik
bagi manusia?" Jawabannya adalah
ambigu. Yang ditekankan olehnya adalah seharusnya manusia bertanya akan imannya
sehingga dia tidak terjebak dalam bentuk-bentuk infantil dan neurotis. Pendk
kata, Freud tidak memperdebatkan realitas Allah, namun lebih mengupas ilusi
palsu kesadaran manusia. Karena bertanya, maka sesungguhnya penjelasan yang
dikemukakan agama tidaklah memadai, Allah tidak bisa dijelaskan dalam
intelektual, sehingga perlu ditolak juga. Terlebih lagi jika dicari manfaatnya,
agama hanya sebagai penghambat perkembangan pribadi, maka harus pula ditolak.
Friedrich Nietzsche (1844-1899)
Friedrich Nietzsche sangat terkenal dengan Sabda Zarathustra (1883)
bahwa "Tuhan telah mati". Inilah awal mula penolakannya terhadap
Tuhan. Penolakannya terhadap Tuhan sebenarnya berasal dari kebenciannya melihat
orang Kristen yang tidak menunjukkan kekristenan yang seharusnya menampilkan kasih. Kebenaran bagi dia sangat subyektif, dipikirkan manusia
yang sangat super kekuasaannya
terhadap dirinya sendiri.
Subyektivitas itu juga dalam hal kebenaran agama, apa yang disebut baik
bisa saja sebenarnya sangat buruk, apa yang disebut buruk bisa saja sebenarnya
sangat baik. Agama Kristen dianggap oleh Nietzsche sebagai bentuk
Platonisme baru yang memisahkan antara dunia, kosmologi, materi dan apa yang
dapat ditangkap oleh pancaindera. Dari sini keburukan Kristen kata Nietzsche
dipandang meremehkan hal-hal duniawi, tampak seperti gnosis yang meremehkan
hidup (tubuh, dunia, hawa nafsu) sehingga merupakan hasrat akan kehampaan,
kehendak akan dekadensi, sebagai penyakit, kelesuah dan kepayahan hidup. Hal
ini ditujukan kepada agama [Kristen]] yang memiliki label baik, sebenarnya
sangatlah buruk, yaitu dengan ajaran-ajarannya yang sebenarnya membelenggu
manusia untuk berkembang. Bagi dia, manusia adalah ukuran segala sesuatu, bukan
Tuhan yang disebut agama Kristen. Manusialah tuhan atas ciptaan ini dan yang
mampu mengerjakan apa yang diinginkannya.
Maka
penolakan akan Tuhan adalah hal yang paling baik, sebab manusia menjadi tidak
bergantung pada Allah (Kristen) yang hanya membelenggu manusia itu, katanya.
J. Paul Sartre (1905-1980)
Tuhan
di mata Sartre kecil adalah sosok penghukum yang mengawasinya di manapun dia
berada, oleh karenanya dia tidak suka kehadiran Tuhan. Tuhan juga tidak hadir
ketika dia ingin menemuinya. Oleh karena itu Sartre sudah menolak Tuhan yang
tidak nyata semenjak umur 12 tahun.
Sartre yang tadi dididik secara Katolik berpindah kepada kesusastraan,
yang disebut sebagai agama baru baginya. Namun secara sistematis, dan khas eksistesialis, penolakan atas Tuhan ini
dilakukannya karena pemisahan radikal dalam tulisannya Ada dan Ketiadaan
terjemahan dari Being and Nothingness.[10] Baginya, di dunia ini tidak ada
grand design yang mutlak, manusialah yang bisa mengatur dirinya sendiri dengan
eksistensinya. Eksistensi manusia mendahului esensinya; manusia ada dan
kemudian menentukan "siapa dirinya". Dia menyangkal Descartes tentang
Aku berpikir, maka aku ada, yang benar adalah Aku ada lalu aku
berpikir. Dari sinilah dia meneruskannya dalam teori eksistensial
fenomenologisnya, bahwa segala sesuatu harus dipisahkan dalam dua bagian; etre
en soi / ada dalam dirinya sendiri atau etre-pour soi / ada untuk
dirinya sendiri.
Segala
sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri berarti tidak pasif, tidak aktif,
tidak afirmatif juga tidak negatif, ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa
dapat dirutunkan dari sesuatu lain, tidak berkembang. Sedangkan ada untuk
dirinya sendiri adalah sebuah kesadaran], dan ini khas manusia. Dari
pemisahan inilah, dia melabel Tuhan orang Kristen yang tidak berubah itu masuk
dalam golongan ada dalam dirinya sendiri, maka dari itu dia tidak lebih
besar dari manusia yang memiliki kesadaran untuk memilih esensinya sendiri. Di
sinilah penyangkalan Tuhan itu terjadi, dia tidak mengakui Tuhan lebih tinggi
dari manusia, maka Tuhan tidak diperlukan lagi. Karena Tuhan tidak lagi ada,
maka manusia menjadi bebas dan bisa menentukan kondisi bangsanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar