FILSAFAT ANALITIK
Oleh :Farid Herdyawan
- Pengertian filsafat bahasa (Analitik) dan perkembangannya
Perhatian filosof terhadap bahasa semakin
besar. Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya banyak persoalan-persoalan
filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan
analisis bahasa. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan
terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan kekaburan,
kekacauan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis.
Secara etimologi kata analitik berarti investigative, logis, mendalam, sistematis, tajam dan tersusun.
Beberapa pengertian tentang filsafat analitik secara terminologi yaitu:
Menurut Rudolph Carnap, filsafat analitik adalah pengungkapan secara sistematik tentang syntax logis (struktur gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa ilmu yang semata-mata formal.
Roger jones menjelaskan arti filsafat
analitik bahwa baginya tindak menganalisis berarti tindak memecah
sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Tepat bahwa itulah yang dilakukan
oleh para filosof analitik.
Didalam kamus populer filsafat, filsafat
analitik adalah aliran dalam filsafat yang berpangkal pada lingkaran
Wina. filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau
metafisik. Juga ingin menyerupai ilmu-ilmu alam yang empirik, sehingga
kriteria yang berlaku dalam ilmu elsakta juga harus dapat diterapkan
pada filsafat (misalnya harus dapat dibuktikan dengan nyata,
istilah-istilah yang dipakai harus berarti tunggal, jadi menolak
kemungkinan adanya analogi).
Filsafat analitik adalah suatu gerakan
filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang
memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa
pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan, atau
bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling
logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang
disajikan. Yang pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi
baik yang linguistik atau nonlinguistik nyata atau yang konstektual.
Filsafat analitik sendiri, secara umum,
hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan
menggunakan analisis bahasa.
Bilamana dikaji perkembangan filsafat
setidaknya terdapat empat fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak
munculnya pemikiran yang pertama sampai dewasa ini, yang menghiasi
panggung sejarah umat manusia. Pertama, kosmosentris
yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek
pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. Ikedua, teosentris
yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat
pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan. Ketiga, antroposentris
yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek
wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern. Keempat, logosentris yaitu
fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa sebagai
pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini berkembang setelah abad
modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini ditandai dengan
aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa merupakan
wahana pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.
Perhatian filsafat terhadap bahasa
sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates,
yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu
termasuk alam semesta. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para
fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Seluruh minat
herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju bahwa di
atas dunia fenomenal ini, terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang
lebih tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni.
Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia
mencari prinsip perubahan. Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini
tidak dapat ditemukan dalam benda material. Petunjuk ke arah tafsiran
yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia
manusiawi, dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki
tempat yang sentral. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos
bahwa “kata” (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. Kata tidak
hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan
“jangan dengar aku”, “dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua
benda itu satu”. Demikian sehingga pemikiran yunani awal bergeser dari
filsafat alam kepada filsafat bahasa yang meletakkan sebagai objek
kajian filsafat.
Filsafat bahasa mulai berkembang pada
abad ke XX dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa.
Noam Chomskylah yang pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin
linguistic. Grice dan Quinelah yang mengangkat meaning sebagai
intensionalitas si pembicara dan meaning dalam konteks kejadiannya.
Davidson lebih lanjut mengetengahkan tentang struktur semantik, untuk
memahami bahasa, termasuk unsur-unsurnya dan mengembangkan tentang
interpretasi yang dapat berbeda antara si pembicara dan yang
dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep tentang referensi.
Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga mengandung referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang ditampilkan.
Filsafat abad modern memberikan
dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa.
Peranan rasio, indra, dan intuisi manusia sangat menentukan dalam
pengenalan pengetahuan manusia. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang
menekankan otoritas akal, aliran empirisme yang menekankan peranan
pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran
imaterialisme dan kritisme Immanuel kant menjadi sangat penting sekali
pengaruhnya terhadap tumbuhnya filsafat analitika bahasa terutama dalam
pengungkapan realistas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa.
- Tokoh-tokoh filsafat Analitik dan pemikirannya
Pada dasarnya perkembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism), ‘Positivisme logis’ (logical empirism), dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy).
Pada pembahasan tokoh
ini penulis hanya menguraikan tiga tokoh utama dalam perkembangan
filsafat analitik tersebut, sebagai berikut:
- Gottlob Frege
Para filosof analitik berpendapat bahwa
filsuf Jerman, Gottlob Frege (1848-1925), adalah filosof terpenting
setelah Immanuel Kant. Frege hendak merumuskan logika yang rigorus sebagai metode berfilsafatnya. Dengan kata lain, filsafat itu sendiri pada intinya adalah logika.
Dalam hal ini, ia dipengaruhi filsafat
analitik, filsafat-logika, dan filsafat bahasa. Frege berpendapat bahwa
dasar yang kokoh bagi matematika dapat ‘diamankan’ melalui logika dan
analisis yang ketat terhadap logika dasar kalimat-kalimat. Cara itu juga
bisa menentukan tingkat kebenaran suatu pernyataan.
Akar-akar analisis linguistik ditanam di
lahan yang disiangi oleh seorang matematikawan bernama G. Frege, ia
memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang implikasinya masih dalam
proses penanganan oleh filosof-filosof kontemporer. Ia menganggap bahwa
logika sebetulnya bisa direduksi ke dalam matematika, dan yakin bahwa
bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah
deduktif yang diungkapkan dengan gamblang. Salah satu idenya yang
paling berpengaruh adalah membuat perbedaan antara “arti” (sense)
proposisi dan “acuan” (reference)-nya, dengan mengetengahkan bahwa
proposisi memiliki makna hanya apabila mempunyai arti dan acuan.
Frege juga menyusun notasi baru yang
memunkinkan terekpresikannya “penentu kuantitas” (kata-kata seperti
“semua”, “beberapa” dan sebagainya) dalam bentuk simbol-simbol. Ia
berharap para filosof bisa menggunakan notasi ini untuk menyempurnakan
bentuk logis argumen mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk jauh
lebih dekat, daripada waktu-waktu sebelumnya, dengan ide pembuatan
filsafat menjadi ilmu yang ketat.
2. Bertrand Russell
Bertrand Russel (1872-1970) lahir dari
keluarga bangsawan. Pada umur 2 dan 4 tahun berturut-turut ia kehilangan
ibu dan ayahnya. Ia dibesarkan di rumah orang tua ayahnya. Di Cambrige,
ia belajar ilmu pasti dan filsafat, antara lain pada A. Whitehead. Kita
sudah mendengar bahwa George Moore termasuk sahabatnya. Selama hidupnya
yang amat panjang, ia menulis banyak sekali, 71 buku dan brosur)
tentang berbagai pokok, antara lain filsafat, masalah-masalah moral,
pendidikan, sejarah, agama, dan politik. Pada tahun 1950 ia memperoleh
hadiah Nobel bidang sastra. Namanya menjadi masyhur di seluruh dunia
terutama karena pendapat-pendapatnya yang nonkonformistis tentang moral
dan politik. Dari sudut ilmiah jasanya yang terbesar terdapat di bidang
logaika Matematis.
Pemikiran filosofis Bertrand Russell
yaitu ia mencoba menggabungkan logika Frege tersebut dengan empirisme
yang sebelumnya telah dirumskan oleh David Hume. Bagi Russell, dunia
terdiri dari fakta-fakta atomis (atomic facts). Dalam konteks
ini, kalimat-kalimat barulah bisa disebut sebagai kalimat bermakna, jika
kalimat tersebut berkorespondensi langsung dengan fakta-fakta atomik.
Ludwig Wittgenstein (1889-1951) juga nantinya banyak dipengaruhi oleh
Russell. Dia sendiri mempengaruhi Lingkaran Wina dan membantu membentuk
aliran positivisme logis pada dekade 1920-30 an.
Jalan pemikiran Russell ini menawarkan jalan keluar untuk aliran atomisme logik. Atomisme logik berpendapat bahwa bahasa keseharian itu banyak menampilkan kekaburan arti. Russerl menawarkan dasar-dasar logico-epistemologik
untuk bahasa. Russell mengetengahkan tentang fakta, bentuk logika, dan
bahasa ideal. Dia mengetengahkan prinsip dasarnya, yaitu: ada
isomorphisme (kesepadanan) antara fakta dengan bahasa, dan dunia ini
merupakan totalitas fakta-fakta, bukan benda. Fakta dalam pemikiran
Russerl merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh
benda-benda.
Ia berpendapat bahwa grammar dari bahasa
yang biasa kita gunakan sebenarnya tidak tepat. Baginya, dunia terdiri
dari fakta-fakta atomis, dan hanya bahasa-bahasa yang mengacu pada fakta
atomis inilah yang dapat disebut sebagai bahasa yang sahih. Oleh karena
itu, ia berpendapat bahwa salah satu tugas terpenting filsafat adalah
menganalisis proposisi-proposisi bahasa untuk menguji kesahihan ‘forma
logis’ dari proposisi tersebut. untuk itu tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis.
Berdasarkan prinsip-prinsip pemikiran
itulah maka Russerl menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan
pada mefisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena
menurutnya logika adalah yang paling dasar dalam filsafat, oleh karena
itu pemikiran Russell dinamakan ‘atomisme logis’.
3. Ludwig Wittgenstein
Ludwig Wittgenstein dilahirkan di wina
(Austria) pada tanggal 26 April 1889 sebagai anak bungsu dari delapan
anak. Ayahnya berasal dari famili yahudi yang telah memeluk agama
Kristen Protestan dan ibunya beragama katolik. Ayahnya seorang insinyur
yang dalam jangka waktu sepuluh tahun berhasil menjadi pemimpin suatu
industri baja yang besar.
Pada Tahun 1906 Wittgenstein mulai
belajar di suatu Sekolah Tinggi Teknik di Berlin. Setelah itu Ia pindah
ke inggris dan melakukan penyelidikan tentang aeronautical selama tiga
tahun. Karena tertarik kepada buku Principles of Mathematics tulisan
Bertrand Russell, ia pergi ke Cambridge untuk belajar kepada Russell, ia
mendapat kemajuan pesat dalam studi tentang logika. Setelah perang
dunia I meletus, ia bergabung dengan tentara Austria sebagai sukarelawan
dan ditawan oleh tentara Italia pada tahun 1918. setelah dibebaskan ia
mengajar di sekolah, tetapi pada tahun 1929, ia kembali ke Cambridge
untuk berkecimpung dalam filsafat. Pada tahun 1939 ia mengganti G.E.
Moore sebagai guru besar fislafat di Cambridge University, Inggris.
Karyanya merupakan factor penting dalam timbulnya aliran-aliran Logical Positivism, Linguistic Analysis dan semantics.
Adapun pemikiran filosofis Ludwig Wittgenstein yaitu:
Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku
Tractatus terdiri atas pernyataan-pernyataan yang secara logis memiliki
hubungan. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut:
Pertama: Dunia itu tidak terbagi atas
benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta, dan akhirnya terbagi
menjadi suatu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik
(khas).
Kedua: Setiap proposisi itu pada
akhirnya melarut diri, melalui analisis, menjadi suatu fungsi kebenaran
yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer, yaitu
setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.
Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut:
Pernyataan pertama:
- Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian.
(The worlds is all that is the case)
Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta, bukan dari benda-benda.
(The World is the totality of fact not of thing)
Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan).
(The World devides into facts)
- Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu, sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa.
(What is the case, a fact is the existence of states of affairs).
Menurut Wittgeinsten yang dimaksud dengan fakta, adalah suatu peristiwa (state of affairs)
atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda
atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia. Dunia itu bukanlah
terdiri atas benda-benda, atau benda-benda itu bukanlah bahagian dunia.
Namun, objek-objek itu merupakan substansi dunia. Jadi, yang dimaksud
Wittgeinstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan
peristiwa (state of affairs), yaitu bagaimana objek-objek itu
memiliki interrelasi dan keadaan, hubungan kausalitas, kualitas,
kuantitas, ruang, waktu, dan keadaan. Misalnya suatu keberadaan
peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding.
Letak jendela di depan pintu pertama, enam jendela terletak di sebelah
kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang, dan lain
sebagainya.
Russell dalam pengantar buku ini
mengatakan bahwa pemikiran Wittgeinsten dalam bukunya itu telah
menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. Penggunaan logika bahasa
yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa
seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat, sehingga setiap kata
hanya mewakili suatu keadaan faktual (fakta) tertentu saja. Suatu logika
bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga
dapat menghindari ungkapan yang tidak bermakna, dan memiliki symbol
tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas(Unifornity).
Teori gambar (picture Theory)
Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas
dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan
demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan
struktur realitas dunia. Oleh karena itu proposisi-proposisi itu
terungkapkan melalui bahasa, maka bahasa pada hakikatnya merupakan suatu
gambaran dunia.
Dalam pengertian ini Wittgeinsten
berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika dalam
mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan
melalui konsep Aristoteles. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan
suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief.
“proposisi saya” misalnya dalam bentuk
perrnyataan Wittgeinsten, seperti dikutip oleh Jones, “ berfungsi
sebagai penjelasan dengan beberapa cara berikut: setiap orang yang
mengerti saya pada akhirnya akan mengenali semua ini (etika, moral,
agama, seni) sebagai ‘yang bukan-bukan, ketika ia menggunakan semua itu
sebagai langkah untuk memanjat melampaui mereka. Dengan begitu, ia
harus membuang tangga setelah selesai memanjatnya.”
Selain proposisi yang menggambarkan
keberadaan suatu peristiwa, terdapat pula proposisi, terdapat pula
proposisi-proposisi logika yaitu kebenaran-kebenaran yang berdasar pada
prinsip-prinsip logis. Hal ini termasuk tautology-tautologi, atau
kontradiksi-kontradiksi. Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau
di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologies, dan “Amin berada di
rumah atau tidak berada di rumah” yang merupakan suatu kontradiksi.
Menurut Wittgeinsten proposisi logika sebenarnya tidak termasuk
proposisi sejati, sebab tidak menggambarkan sesuatu. Proposisi-proposisi
tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran, namun merupakan suatu
kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk
peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. Namun
demikian menurut Wittgeinsten proposisi logika tersebut bukan berarti
tidak bermakna, melainkan kebenarannya bersifat tautologies.
b. Periode Kedua: Philosophical Investigations
Dari buku-buku yang diterbitkan sesudah meninggalnya, Philosophical Investigations adalah satu-satunya karya yang dimaksudkan Wittgenstein sendiri untuk diterbitkan. Philosophical Investigations terdiri
dari banyak pasal pendek (sering kali tidak melebihi beberapa kalimat
saja; seluruh bagian pertama dibagi atas 693 nomor), yang yang
hubungannya satu sama lain umunya tidak begitu erat. Untuk kita yang
paling penting ialah pendapat baru tentang bahasa yang di kemukakan
disini, dengan itu ia mengeritik pendapatnya dalam Tractus.
Supaya makna bahasa kita, dapat dimengerti, kita harus menerima adanya proposisi-proposisi elementer yang menunjuk kepada states of affairs
dalam realitas. Di kemudian hari Wittgenstein menginsafi bahwa dalam
teori pertama itu sebetulnya ia tidak memperlihatkan struktur
tersembunyi dari segala macam bahasa, melainkan hanya melukiskan jenis
bahasa tertentu. Dalam Philosophical Investigations ia menolak beberapa
hal yang dulu diandaikan begitu saja dalam teori pertama, yaitu (1)
Bahwa bahasa dipakai hanya untuk satu tujuan saja, yakni menetapkan
states of affairs (keadaan-keadaan faktual), (2) Bahwa kalimat-kalimat
mendapat maknanya dengan satu cara saja, yakni menggambarkan suatu
keadaan factual, dan (3) Bahwa setiap jenis bahasa dapat dirumuskan
dalam bahasa logika yang sempurna , biarpun pada pandangan pertama
barangkali sukar untuk dilihat.
Dalam philosophical Investigations ia
menolak pendapatnya yang pertama. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak
hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan
dalam banyak cara (form of lifes) yang berbeda
untuk mengungkapkan pembenaran, pertanyaan-pertanyaan, perintah,
pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan
kata-kata. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda dalam
penggunaan bahasa.
Kemudian untuk menjelaskan bahwa bahasa
dipakai dengan rupa-rupa cara, dalam Philosophical Investigations
Wittgenstein mengintrodusir istilah language games (permainan-permainan bahasa), suatu permainan dapat dilukiskan sebagai aktivitas yang dilakukan menurut aturan.
Permainan bahasa ini menggambarkan
aktivitas manusia. Jika ilmu pengetahuan memiliki permainan bahasanya
sendiri, maka kita juga bisa berpartisipasi di dalam permainan bahasa
agama-agama, permainan bahasa estetika, dan banyak permainan bahasa
lainnya. Pada titik ini, kata-kata memiliki maknanya dari penggunaannya
di dalam suatu permainan bahasa tertentu.
Kalau pada periode pertama Wittgeinsten
mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa
filsafat tidak memiliki struktur logis, sehingga ia mengungkapkan
persoalan timbul karena para filosof yang menggunakan bahasa kurang
tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. Banyak
ungkapan-ungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan
suatu realitas fakta dunia secara empiris, sehingga bahasa filsafat
terutama metafisika, filsafat nilai, estetika, etika, dan cabang-cabang
lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa.
Namun demikian melalui konsep “tata
permainan bahasa” ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa
dalam filsafat. Wittgeinsten menyatakan bahwa persoalan-persoalan
filsafat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan “tata
permainan bahasa”.
Apakah tugas filsafat dalam pandangan
ini? Filsafat harus menyelidiki permainan-permainan bahasa yang
berbeda-beda, menunjukkan aturan-aturan yang berlaku di dalamnya,
menetapkan logikanya, dan sebagainya. Filsafat tidak campur tangan dalam
pembentukan suatu permainan bahasa. Filsafat hanya melukiskan
fungsinya, dengan menerangkan cara bahasa dipakai sering kali
masalah-masalah filosofis dapat dipecahkan.
Dalam dua karya yang dibicarakan oleh
Wittgenstein terdapat dua pandangan yang berbeda. Oleh karena itu sudah
menjadi kebiasaan untuk membedakan Witgeinsten I dan Witgeinsten II.
Dengan dua pandangan ini ia menjadi sumber inspirasi bagi dua aliran
filosofis yang cukup penting, biarpun kedua-duanya tidak disetujui oleh
Wittgeinsten itu sendiri. Disatu pihak lingkungan Wina yang memegang
peranan penting kira-kira satu dasawarsa sebelum prang dunia II. Di lain
pihak gerakan filosofis yang di tunjukkan dengan pelbagai nama, antara
lain, “filsafat analisis”. Gerakan ini mulai berkembang di Cambridge,
tetapi sesudah perang dunia II terutama berpusat di Oxford. Terpengaruh
oleh Wittgeinsten II, mereka berpendapat bahwa filsafat harus berpegang
pada prinsip Don’t ask for the meaning, ask for the use (jangan tanyakan
makna, tanyakanlah pemakaian bahasa).
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna, Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004
Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani, Jakarta: Kanisius, 1975
————-. Filsafat Barat Kontempoter Inggris-Jerman, Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002
Endarmoko, Eko. Tesaurus Bahasa Indonesia, Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006
Hartoko, Dick. Kamus Populer Filsafat, Cet. III; PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Hidayat, Asep Ahmad. Filsafat Bahasa, Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006
Kaelan M.S. Perkembangan Filsafat Analitika Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap Ilmu Pengetahuan, Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006
Mudhofir, Ali. Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi, Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996
Nolan, Richard T., Harold H. Titus, dan Marilyn S. Smith. Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat, Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984
Palmquis, Stephen. The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat, Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Russel, Bertrand. History of Western philosophy, Oxford: Alden Press, 1974
Salliyanti. Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa, Medan: USU, 2006
Umar, Mustofa. Tesis “Konsep Penciptaan Alam Menurut Hadis Qudsi” (Sebuah Kajian Filosofis dan Sufistik), Makasar: PPs Alauddin Makasar, 1998
Bertrand Russel, History of Western philosophy (Oxford: Alden Press, 1974), h. 13
Lihat K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Jakarta: Kanisius, 1975), h. 26
Mustofa Umar, Tesis “Konsep penciptaan Alam Menurut Hadis Qudsi” (Sebuah Kajian Filosofis dan Sufistik), (Makasar: PPs Alauddin Makasar, 1998), h. 2
K. Bertens. Op. Cit., h. 82
Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan, Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984), h. 358
Salliyanti, Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa (Medan: USU, 2006), h. 1
Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006), h. 24
Ibid., h. 9
Zainal Abidin, Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna (Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004), h. 76
Lihat Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat (Cet. III; PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 4
Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi (Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 8
Lihat Kaelan M.S, Perkembangan filsafat Analitika bahasa dan pengaruhnya Terhadap ilmu Pengetahuan (Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006) h. 7
[13]Ibid.,
[14]Lihat Noeng Muhadj, Filsafat Ilmu Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 98
Kaelan M.S, Op. Cit., h. 8
Ibid., h. 15
Stephen Palmquis, The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 200
Ibid.
K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter Inggris-Jerman (Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 26
Noeng Muhadj, Op. Cit., h. 99
http://rezaantonius.wordpress.com/2008/02/24/filsafat-analitik/
Kaelan M.S, Op. Cit., h. 25
K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter…… Op. Cit., h. 41
Harold H. Titus, Marilyn S. Smith dan Richard T. Nolan., Op. Cit., h. 370
Pemikiran
Wittgeinsten tertuang dalam Buku ini sebagai karya besar pertama ketika
ia memperkuat visi dasar atomisme logis. Buku ini tidak lebih dari 75
halaman saja yang terdiri dari pernyataan-pernyataan agak pendek. Yang
susunannya diatur sedemikian rupa sehingga terdapat tujuh dalil pokok
yang dibagi-bagi menurut sistem desimal. Kaelan M.S, Op. Cit,. h. 39
Ibid., h. 40
Ibid., h. 43-44
Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa (Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006), h. 46
K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter…… Op. Cit., h. 52
Kaelan M.S, Op. Cit,. h. 70
Tidak ada komentar:
Posting Komentar