Selasa, 27 Desember 2016

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu



Filsafat sebagai ilmu yang mengadakan tinjauan dan mempelajari obyeknya dari sudut hakekat, selalu berhadapan dengan beberapa problem utama. Problem utama filsafat tersebut menurut (Bernadib,1994), meliputi:
Realita ialah mengenai kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada masalah kebenaran. Kebenaran akan timbul bila orang telah dapat menarik kesimpulan, bahwa pengetahuan yang dimiliki telah nyata. Realita atau kenyataan dipelajari oleh metafisika. Pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan itu, dan jenis-jenis pengetahuan. Pengetahuan tersebut dipelajari oleh epistemologi. Nilai dipelajari oleh cabang filsafat yang disebut aksiologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabnya antara lain adalah seperti: nilai-nilai yang bagaimanakah yang dikehendaki oleh manusia dan yang akan dapat digunakan sebagai dasar hidup.

Filsafat ilmu menurut Ernest Nagel dalam Koentowibiwono (Siswomihardjo, 1997) mencakup 3 bidang, yaitu : “1) Pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu (Logical patterns exhibited by explanations in the sciences); 2) Pembentukan konsep ilmiah (constructions of scientific concepts): 3) Pembuktian keabsahan kesimpulan ilmiah (validation of scientific conclusions)”. Selanjutnya, bahwa filsafat ilmu diarahkan kepada 3 komponen pokok pendukung eksistensi ilmu (Siswomihardjo, 1997: 39), yaitu:

  1. Ontologi, meliputi: apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran, dan kenyataan inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari; 
  2.  Epistemologi, meliputi: sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk landasan ontologis akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan dipilih; 
  3. Aksiologi, meliputi: nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan manusia yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, simbolik, ataupun kawasan fisik material. Nilai-nilai yang ditunjukkan oleh aksiologi tersebut merupakan suatu conditiosine quanon.

Selanjutnya filsafat ilmu mengarah pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Filsafat ilmu dalam kebudayaan untuk menangkap kegunaan ilmu dan maknanya bagi keberlangsungan hidup manusia.

Problem-problem Filsafat Ilmu
Seperti ilmu-ilmu lainnya, filsafat ilmu juga memiliki masalah-masalah yang sistematis yang dapat digolongkan berdasarkan pada 6 hal (Gie, 2000) yaitu: pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Sedangkan masalah atau problem yang dihadapi filsafat ilmu yang tidak sistematis juga ada 6 yaitu:

Pertama, Problem epistemologi tentang ilmu; problem tersebut membahas tentang segi-segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reliabilitas sampai soal kebenaran.

Kedua, Problem metafisis tentang ilmu: metafisika adalah teori mengenai apa yang ada. Segi filsafat ilmu ini mempersoalkan tentang eksistensi dari entitas-entitas dalam sesuatu ilmu khusus atau status dari kebenaran ilmu.

Ketiga, Problem metodologis tentang ilmu; metodologi ilmu merupakan penelahaan terhadap metode yang dipergunakan dalam suatu ilmu. Validitas dan reliabilitas hasil ilmu sangat ditentukan oleh kuatnya metode yang dipakai.

Keempat, Problem logis tentang ilmu; dalam menentukan kesimpulan pada suatu ilmu haruslah memenuhi syarat-syarat logika dengan standar ketelitian logis yang tinggi.

Kelima, Problem etis tentang ilmu; problem etis dari ilmu tersebut mengandung implikasi baik atau buruk bagi kehidupan manusia.

Keenam, Problem estetis tentang ilmu; aspek estetis mempermasalahkan tentang keindahan atau kejelekan dari analisis, pemaparan, penilaian dan penafsiran peranan suatu ilmu dalam peradaban manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar