Filsafat
sebagai ilmu yang mengadakan tinjauan dan mempelajari obyeknya dari sudut
hakekat, selalu berhadapan dengan beberapa problem utama. Problem utama
filsafat tersebut menurut (Bernadib,1994), meliputi:
Realita ialah mengenai
kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada masalah kebenaran. Kebenaran akan
timbul bila orang telah dapat menarik kesimpulan, bahwa pengetahuan yang
dimiliki telah nyata. Realita atau kenyataan dipelajari oleh metafisika.
Pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah
pengetahuan itu, dan jenis-jenis pengetahuan. Pengetahuan tersebut dipelajari
oleh epistemologi. Nilai dipelajari oleh cabang filsafat yang disebut
aksiologi. Pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabnya antara lain adalah
seperti: nilai-nilai yang bagaimanakah yang dikehendaki oleh manusia dan yang
akan dapat digunakan sebagai dasar hidup.
Filsafat ilmu
menurut Ernest Nagel dalam Koentowibiwono (Siswomihardjo, 1997) mencakup 3
bidang, yaitu : “1) Pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu (Logical
patterns exhibited by explanations in the sciences); 2) Pembentukan konsep
ilmiah (constructions of scientific concepts): 3) Pembuktian keabsahan
kesimpulan ilmiah (validation of scientific conclusions)”. Selanjutnya,
bahwa filsafat ilmu diarahkan kepada 3 komponen pokok pendukung eksistensi ilmu
(Siswomihardjo, 1997: 39), yaitu:
- Ontologi, meliputi: apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran, dan kenyataan inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari;
- Epistemologi, meliputi: sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk landasan ontologis akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan dipilih;
- Aksiologi, meliputi: nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan manusia yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, simbolik, ataupun kawasan fisik material. Nilai-nilai yang ditunjukkan oleh aksiologi tersebut merupakan suatu conditiosine quanon.
Selanjutnya
filsafat ilmu mengarah pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan
heuristik. Filsafat ilmu dalam kebudayaan untuk menangkap kegunaan ilmu dan
maknanya bagi keberlangsungan hidup manusia.
Problem-problem
Filsafat Ilmu
Seperti
ilmu-ilmu lainnya, filsafat ilmu juga memiliki masalah-masalah yang sistematis
yang dapat digolongkan berdasarkan pada 6 hal (Gie, 2000) yaitu: pengetahuan,
keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Sedangkan masalah
atau problem yang dihadapi filsafat ilmu yang tidak sistematis juga ada 6
yaitu:
Pertama, Problem
epistemologi tentang ilmu; problem tersebut membahas tentang segi-segi
pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi
dan landasan, validitas dan reliabilitas sampai soal kebenaran.
Kedua, Problem
metafisis tentang ilmu: metafisika adalah teori mengenai apa yang ada. Segi
filsafat ilmu ini mempersoalkan tentang eksistensi dari entitas-entitas dalam
sesuatu ilmu khusus atau status dari kebenaran ilmu.
Ketiga, Problem
metodologis tentang ilmu; metodologi ilmu merupakan penelahaan terhadap metode yang
dipergunakan dalam suatu ilmu. Validitas dan reliabilitas hasil ilmu sangat
ditentukan oleh kuatnya metode yang dipakai.
Keempat, Problem logis
tentang ilmu; dalam menentukan kesimpulan pada suatu ilmu haruslah memenuhi
syarat-syarat logika dengan standar ketelitian logis yang tinggi.
Kelima, Problem etis
tentang ilmu; problem etis dari ilmu tersebut mengandung implikasi baik atau
buruk bagi kehidupan manusia.
Keenam, Problem estetis
tentang ilmu; aspek estetis mempermasalahkan tentang keindahan atau kejelekan
dari analisis, pemaparan, penilaian dan penafsiran peranan suatu ilmu dalam
peradaban manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar