Filsafat ilmu
sangat berperan bagi ilmu ekonomi dengan 3 landasan pokoknya, yaitu: 1)
landasan ontologi, 2) landasan epistemologi dan 3) landasan aksiologi dalam
mencipatakan penemuan-penemuan baru, baik ekonomi secara teoritis maupun
ekonomi terapan. Temuan-temuan ilmiah di bidang manajemen produksi, manajemen
pemasaran, manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan telah mampu
membawa dampak terhadap modernisasi sistem industri dan perdagangan dunia.
Kemajuan
teknologi pada abad ini merupakan hasil dari aktivitas intelektual manusia yang
sudah maju, baik dalam sistem maupun metodenya. Adanya perubahan teknologi ini
juga berakibat langsung terhadap perkembangan drastis sistem ilmu dan
teknologi. Perkembangantersebut menghasilkan revolusi ilmiah dan revolusi
teknologi yang bergerak dalam perubahan kualitatif yang mendasar. Kemajuan drastis
besifat mendasar ini merupakan prestasi-prestasi ilmiah modern, yang terungkap
dalam teknologi dan juga dalam proses produksi barang-barang material, maka ini
berarti tingkat peradaban manusia sudah semakin tinggi.
Save M. Dagun
(1992) mengemukakan, bahwa gambaran masyarakat ekonomi masa depan berdasarkan
prinsip-prinsip industrialisme dibedakan menjadi tiga: “1) masyarakat
pra-industri, 2) masyarakat era industri, dan 3) masyarakat pasca industri”.
Masyarakat
pra-industri, yaitu apabila perkembangan industri yang nampak dari GNP
negaranya masih rendah. Masyarakat era industri ditandai dengan adanya
perkembangan industri dan pemanfaatan teknologi mesin-mesin. Sedangkan
masyarakat pasca industri ditandai dengan terjadinya reduksi besar-besaran terhadap
waktu kerja, pertumbuhan populasi nol dan reorientasi perekonomian dan
kebudayaan dalam meningkatkan kualitas hidup sertaperkembangan studi tentang
mekanisme umpan balik, sistem komunikasi dan ditemukannya mesin-mesin yang
berteknologi canggih (cyber). Kecanggihan mesin tersebut mampu
menguraikan organisme hidup, kemudian diterapkan pada mesin-mesin elektronik
yang sangat rumit strukturnya. Ilmu tentang sibernetik tersebut, juga memiliki
keterbatasan, karena aktivitas jiwa dan rohani manusia tidak dapat diuraikan
oleh pencipta sibernetik melalui komputer yang paling canggih sekalipun.
Konsep sosio
ekonomi lahir dengan bertujuan untuk menggali arus dasar persoalan ekonomi dan
sosial masyarakat. Persoalan-persoalan yang timbul saat ini adalah masalah
ekologi sosial yang terjadi di setiap negara, dimana setiap negara harus
menciptakan kondisi-kondisi yang menyenangkan bagi hubungan internasional yang
baik demi terciptanya dunia yang lebih maju dan berdasarkan atas rasa cinta
damai. Persoalan ekonomi yang ada hubungannyadengan ekologi sosial perlu
ditangani secara bersama oleh semua ilmu (multi discipline). Usaha untuk
memperluas dan melaksanakan kebijaksanaan dan strategi demografis yang aktif
bagi perlindungan habitat lingkungan sangat diperlukan. Usaha mengatasi
masalah-masalah dunia dewasa ini menuntut usaha terpadu dalam berbagai
aktivitas. Usaha ini termasuk filsafat yang menyangkut ideologi dalam rangka
menghargai hak asasi manusia. Masyarakatdunia yang sedang menyongsong era
industrialisasi bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dengan meningkatkan
kesejahteraan secara merata.
Perkembangan
ilmu dan teknologi berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan produksi, distribusi
dan konsumsi yang telah dibangun dan dikembangkan oleh para ahli ekonomi yang banyak
menimbulkan dilema-dilema yang mendistorsi eksistensi manusia itu sendiri.
Dampak negatif yang diakibatkan dari adanya aktivitas produksi yang
mempengaruhi kondisi lingkungan. Lingkungan menjadi tidak seimbang dikarenakan
timbul persoalan-persoalan radioa aktif, pencemaran lingkungan, pencemaran
udara dan pencemaran air. Dengan adanya persoalan-persoalan dampak dari
aktivitas produksi tersebut, maka diperlukan pembatasan-pembatasan dan
perencanaan yang matang terhadap aktivitas produksi yang akan dilaksanakan.
Ilmu ekonomi tidak mampu memecahkan masalah-masalah sosial dan tata lingkungan
yang diakibatkan kemajuan ilmu ekonomi itu sendiri.
Persoalan-persoalan
di bidang ekonomi modern dapat dirumuskan dalam pertanyaan- pertanyaan sebagai
berikut:
Apakah
perusahaan-perusahaan memanusiakan manusia di tempat kerja? Apakah tingkat
kepedulian sosial peru sahaan cukup tinggi? Apakah penggunaan sumber daya alam
memperhitungkan kelestarian ekonomi? Apakah perusahaan rela memikul biaya
sosial? Apakah dalam mendapatkan keuntungan, perusahaan memegang teguh
norma-norma moral dan etika? (Siagian, 1996).
Persoalan-persoalan
ekonomi yang timbul berkisar pada aspek aksiologi dan filsafat ilmu. Banyaknya
permasalahan yang berkaitan dengan aspek aksiologis dalam perkembangan ilmu
ekonomi dan tanggung jawab para ahli ekonomi Indonesia, antara lain: 1) Masalah
pengangguran, 2) Masalah tanggung jawab sosial perusahaan, 3) Masalah
peningkatan mutu kehidupan, 4) Masalah peningkatan taraf hidup, 5) Masalah
pelestarian lingkungan hidu, 6) Masalah perkembangan teknologi, 7) Masalah
pengangguran tenaga kerja yang semakin rumit, dimana keterampilan dan keahlian
tenaga kerja tidak sesuai dengan tuntutan dunia usaha.
Perusahaan
dalam usahanya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas
kerja, sering berakibat terhadap penggunaan teknologi canggih dan pengurangan
tenaga kerja. Langkah tersebut mengakibatkan tingkat pengangguran tinggi, daya
beli rendah serta terjadinya kesenjangan sosial.
Masalah
tanggung jawab sosial merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh pihak
manajer perusahaan terhadap lingkungan di sekitar perusahaan. Dijalinnya
hubungan baik ini akan membantu kelancaran operasional perusahaan, dimana
masyarakat sekitar akan ikut bertanggung jawab atas keamanan perusahaan dan
sebaliknya perusahaan akan memberikanbantuan dan dukungan kepada masyarakat
yang membutuhkan yang dikaitkan dengan filosofi, tujuan dan strategi yang
dianut perusahaan. Masalah peningkatan mutu kehidupan, dikaitkan dengan
tuntutan masyarakat agar harkat dan martabatnya diakui dan dihargai merupakan
tantangan nyata. Dalam interaksi antara karyawan dengan pihak manajemen
menuntut harus tercermin pengakuan dan penghargaan atas harkat dan martabat
mereka.
Masalah
peningkatan taraf hidup karyawan harus diperhatikan oleh para manajer, karena
karyawan bekerja bukan hanya sebagai upaya mencari nafkah saja, tetapi juga
sebagai wahana untuk menunjukkan eksistensi dirinya.
Secara pesat
perkembangan ekonomi industrialisasi di suatu masyarakat, makin besar pula
peranan dunia usaha dalam pencemaran lingkungan dan perusakan lingkungan. Belum
ditemukannya solusi yang tepat untuk menangani pencemaran dan perusakan
lingkungan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak manajer, tetapi juga
melibatkan semua pihak. Semakin pesatnya perkembangan teknologi yang banyak
dimanfaatkan untuk perkembangan perusahaan yang mengakibatkan adanya revolusi
teknologi transportasi, telekomunikasi dan informasi serta adanya dampak
negatif terhadap budaya bangsa.
Peranan
filsafat ilmu sebagai dasar dan arah pengembangan ilmu ekonomi dalam rangka
meningkatkan mutu para sarjananya menjadi amat penting untuk dipikirkan sebagai
prasyaratnya, seperti landasan ontologis, yaitu yang berhubungan dengan materi
yang menjadi obyek telaah ilmu. Filsafat ilmu membimbing agar calon ilmuwan
ekonomi tidak salah menentukan hakekat apa yang dikaji. Dalam hal ini, manusia
dalam hubungannya dengan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhannya. Landasan
epistemologis, membimbing dalam proses untuk memperoleh pengetahuan ilmiah di
bidang ekonomi. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang obyek apapun
termasuk manusia dalam hubungannya benda/jasa untuk memenuhi kebutuhannya,
selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh
melalui metode keilmuan, maka sah disebut keilmuan. Dasar aksiologi, membimbing
dalam membahas tentang manfaat dari ilmu pengetahuan ekonomi yang
didapatkannya. Di sini ilmuwan bidang ekonomi harus mampu menilai antara yang
baik dan yang buruk, sehingga ilmuwan harus memiliki moral yang kuat agar
kemajuan ilmu yang dihasilkan tidak menjadi momok yang mengancam kehidupan
manusia itu sendiri.
Kenyataan
seperti di atas telah diperhatikan oleh (Rizal Mustansyir dan Misnal
Musnir,2001) sebagai berikut:
Bagi seorang
yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai
tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya para ilmuwan memiliki
landasan berpijak yang kuat.
Menyadarkan
para ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”, yakni
hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkannya dengan kenyataan yang
ada di luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuan tidak dapat dilepaskan
dari konteks kehidupan sosial kemasyarakatan (ilmu saling menyapa).
Apabila hal ini
dapat dicapai berarti, bahwa filsafat ilmu benar-benar memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kualitas sarjana ekonomi. Sebab dengan mempelajari
filsafat ilmu, para ilmuwan ekonomi akan menyadari keterbatasan dirinya dan
tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intelektual. Selain itu hal yang tak
kalah pentingnya adalah adanya sikap keterbukaan diri di kalangan sarjana
ekonomi, sehingga dapat mengarahkan seluruh potensi keilmuannya untuk
kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar