• Tokoh-tokoh Rasionalisme
1. Rene Descartes
Descartes dianggap sebagai bapak aliran filsafat modern. Ia merupakan filosof yang ajaran filsafatnya sangat populer, karena pandangannya yang tidak pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal atau rasio manusia. Descartes menjelaskan kebenaran melalui metode keragu-raguan. Dalam karyanya Anaxemens Discourse on Methode ada 4 hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
1. Kebenaran baru dinyatakan sahih jika benar-benar indrawi dan realitasnya telah jelas dan tegas (clearly and distincictly), sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah sampai sebanyak mungkin sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
3. Bimbinglah pikiran dengan teratur (mulai dari yang sederhana atau mudah diketahui sampai hal yang paling sulit atau kompleks).
4. Pencarian dan pemeriksaan harus dibuat dengan perhitungan yang sempurna serta mempertimbangkan secara menyeluruh sehingga diperoleh keyakinan bahwa tidak ada satupun yang terabaikan atau terlewatkan.
1. De Spinoza
Baruch Spinoza atau Benedictus de Spinoza merupakan salah satu pengikut pemikiran Descartes yang menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika yang sampai saat ini dikenal dengan mazhab rasionalisme. Spinoza menjawab pertanyaan-pertannyaan kebenaran dengan tentang sesuatu, menggunakan metode deduksi matematis yang meletakkan definisi aksioma, proposisi, kemudian berulang membuat pembuktian atau menyimpulkan.
Seperti Descartes, Spinoza juga mengatakan bahwa kebenaran itu terpusat pada pemikiran dan keluasaan. Pemikiran adalah jiwa, sedangkan keluasaan adalah tubuh yang eksistensinya berbarengan.
1. Gottfried Eilhelm von Leibniz
Leibniz merupakan seorang filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan dengan ide tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep substansi. Menurut logika Leibniz yang dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar.
Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam adalah perwujudan dunia yang matematis. Dunia yang nyata ini hanya dapat dikenal melaui penerapan dasar-dasar pemikiran. Tanpa itu manusia tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Teori ini berkaitan dengan dasar pemikiran epistimologis Leibniz, yaitu kebenaran pasti/kebenaran logis dan kebenaran fakta/kebenaran pengalaman.
Atas dasar inilah yang kemudian Leibniz membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama;pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran abadi, yaitu kebenaran logis. Kedua;pengetahuan yang didasari oleh observasi atau pengamatan, hasilnya disebut dengan “kebenaran fakta”.
• Implikasi Rasionalisme dalam Mencari Ilmu Pengetahuan
Pengaruh Descartes terlalu sulit untuk ditelusuri seluk-beluknya, oleh karena hampir seluruh aliran filsafat sesudahnya mempunyai impact, setidak-tidaknya mempunyai akar dari pemikirannya. Masalah-masalah kefilsafatanlah yang menjadi dasar inspirasi atau bahkan dasar pemikiran bagi timbulnya pemikiran-pemikiran baru yang datang kemudian. Sedangkan aliran-aliran lain, baik yang datang untuk menyanggah maupun yang tampil untuk mendukungnya, sadar atau tidak memperoleh inspirasi dari masalah-masalah yang dipermasalahkan oleh Descartes, khususnya dualisme jiwa dan badan, masalah rasio sebagai dasar keyakinan dan kebenaran, serta masalah berada (exist). Masalah exist ini dianggap sebagai ciri khas dan salah satu tema sentral dari filsafat modern, yang membedakannya dengan filsafat Timur, khususnya Islam yang bersifat teosentrik dan prophenik. Menurut seorang penulis Arab, sebagaimana di kutip oleh Garaudy dalam Praja (2005: 100) menyatakan bahwa kesimpulan dari kesalahan-kesalahan Flisafat-Barat dapat ditelusuri dari tema exist yang menjadi sentral filsafatnya. Menurut Praja (200: 100) menyatakan bahwa Descartes dijuluki sebagai penakluk filsafat dari renaissance, telah menciptakan judul “aku” dengan tujuan menjadikan manusia sebagai tuan dan pemilik alam semesta. Sehingga hasilnya manusia berhasil mendirikan proyek-proyek industri dan militer.
Berdasarkan pemikiran dari Descartes tentang aliran Rasionalisme dapat implikasi dalam dunia pendidikan dengan menggunakan logika dalam kaidah-kaidah berpikir dalam bidang ilmu. Subyek dari akal-akal adalah rasional dan obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas apapun realitas di alam pikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat pasti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan atau angan-angan yang mungkin. Contohnya: suatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara pasti sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan, dan selalu hadir kapan saja pikiran itu digunakan. Prinsip berpikir harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang berwujud. Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerima berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia. Rasionalisme mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada).
Pada dasarnya pengetahuan mempunyai tiga kriteria,yaitu: (a) adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran; (b) penyesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya; (c) adanya keyakinan tetang penyesuaian. Pengetahuan dalam usaha-usahanya tidaklah puas hanya dengan cara yang serba kebetulan saja, melainkan berusaha pula mencari jalan tertentu untuk mempermudah diri dalam upaya mencapai tujuannya. Pengetahuan berjalan menurut metode tertentu, karena itu pengetahuan di sebut itu disebut mempunyai metode-metode atau approuch (pendekatan). Pendekatan berarti sekumpulan dari teori, metode dan teknik penelitian. Manusia terus berupaya agar pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, serta hasil-hasilnya di kumpulkan dengan susunan tertentu pula sehingga semuanya itu merupakan keseluruhan yang tersusun dengan teratur yang disebut sistem.
Menurut Praja (2005: 9) menyatakan bahwa pada dasarnya pengetahuan bersumber kepada tiga macam sumber, yaitu: Pertama, pengetahuan yang langsung diperoleh; Kedua, hasil dari suatu konklusi; dan Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari kesaksian dan otoritas. Pengetahuan langsung diperoleh dari dua sumber: sumber external (luar) dan sumber internal (dalam). Pengetahuan konklusi ialah pengetahuan yang diperoleh melalui penarikan kesimpulan dari data empirik atau inderawi. Pengetahuan kesaksian dan otoritas adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian dari orang lain atau berita orang yang bisa dipercaya. Filsafat dan ilmu pengetahuan kedua-duanya menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha untuk menghadapi fakta-fakta dunia dan kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap kritik, dengan pikiran terbuka dan kemauan yang tidak menihak, untuk mengetahui hakekat kebenaran. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.
1. Rene Descartes
Descartes dianggap sebagai bapak aliran filsafat modern. Ia merupakan filosof yang ajaran filsafatnya sangat populer, karena pandangannya yang tidak pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal atau rasio manusia. Descartes menjelaskan kebenaran melalui metode keragu-raguan. Dalam karyanya Anaxemens Discourse on Methode ada 4 hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
1. Kebenaran baru dinyatakan sahih jika benar-benar indrawi dan realitasnya telah jelas dan tegas (clearly and distincictly), sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah sampai sebanyak mungkin sehingga tidak ada keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
3. Bimbinglah pikiran dengan teratur (mulai dari yang sederhana atau mudah diketahui sampai hal yang paling sulit atau kompleks).
4. Pencarian dan pemeriksaan harus dibuat dengan perhitungan yang sempurna serta mempertimbangkan secara menyeluruh sehingga diperoleh keyakinan bahwa tidak ada satupun yang terabaikan atau terlewatkan.
1. De Spinoza
Baruch Spinoza atau Benedictus de Spinoza merupakan salah satu pengikut pemikiran Descartes yang menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika yang sampai saat ini dikenal dengan mazhab rasionalisme. Spinoza menjawab pertanyaan-pertannyaan kebenaran dengan tentang sesuatu, menggunakan metode deduksi matematis yang meletakkan definisi aksioma, proposisi, kemudian berulang membuat pembuktian atau menyimpulkan.
Seperti Descartes, Spinoza juga mengatakan bahwa kebenaran itu terpusat pada pemikiran dan keluasaan. Pemikiran adalah jiwa, sedangkan keluasaan adalah tubuh yang eksistensinya berbarengan.
1. Gottfried Eilhelm von Leibniz
Leibniz merupakan seorang filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan dengan ide tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep substansi. Menurut logika Leibniz yang dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar.
Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam adalah perwujudan dunia yang matematis. Dunia yang nyata ini hanya dapat dikenal melaui penerapan dasar-dasar pemikiran. Tanpa itu manusia tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Teori ini berkaitan dengan dasar pemikiran epistimologis Leibniz, yaitu kebenaran pasti/kebenaran logis dan kebenaran fakta/kebenaran pengalaman.
Atas dasar inilah yang kemudian Leibniz membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama;pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran abadi, yaitu kebenaran logis. Kedua;pengetahuan yang didasari oleh observasi atau pengamatan, hasilnya disebut dengan “kebenaran fakta”.
• Implikasi Rasionalisme dalam Mencari Ilmu Pengetahuan
Pengaruh Descartes terlalu sulit untuk ditelusuri seluk-beluknya, oleh karena hampir seluruh aliran filsafat sesudahnya mempunyai impact, setidak-tidaknya mempunyai akar dari pemikirannya. Masalah-masalah kefilsafatanlah yang menjadi dasar inspirasi atau bahkan dasar pemikiran bagi timbulnya pemikiran-pemikiran baru yang datang kemudian. Sedangkan aliran-aliran lain, baik yang datang untuk menyanggah maupun yang tampil untuk mendukungnya, sadar atau tidak memperoleh inspirasi dari masalah-masalah yang dipermasalahkan oleh Descartes, khususnya dualisme jiwa dan badan, masalah rasio sebagai dasar keyakinan dan kebenaran, serta masalah berada (exist). Masalah exist ini dianggap sebagai ciri khas dan salah satu tema sentral dari filsafat modern, yang membedakannya dengan filsafat Timur, khususnya Islam yang bersifat teosentrik dan prophenik. Menurut seorang penulis Arab, sebagaimana di kutip oleh Garaudy dalam Praja (2005: 100) menyatakan bahwa kesimpulan dari kesalahan-kesalahan Flisafat-Barat dapat ditelusuri dari tema exist yang menjadi sentral filsafatnya. Menurut Praja (200: 100) menyatakan bahwa Descartes dijuluki sebagai penakluk filsafat dari renaissance, telah menciptakan judul “aku” dengan tujuan menjadikan manusia sebagai tuan dan pemilik alam semesta. Sehingga hasilnya manusia berhasil mendirikan proyek-proyek industri dan militer.
Berdasarkan pemikiran dari Descartes tentang aliran Rasionalisme dapat implikasi dalam dunia pendidikan dengan menggunakan logika dalam kaidah-kaidah berpikir dalam bidang ilmu. Subyek dari akal-akal adalah rasional dan obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa yang mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas apapun realitas di alam pikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat pasti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini adalah mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan atau angan-angan yang mungkin. Contohnya: suatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara pasti sejak manusia lahir. Tertanam secara kodrati dan spontan, dan selalu hadir kapan saja pikiran itu digunakan. Prinsip berpikir harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang berwujud. Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerima berarti meruntuhkan seluruh arsitektur bangunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia. Rasionalisme mencapai puncaknya melalui Rene Descartes yang terkenal dengan Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada).
Pada dasarnya pengetahuan mempunyai tiga kriteria,yaitu: (a) adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran; (b) penyesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda sebenarnya; (c) adanya keyakinan tetang penyesuaian. Pengetahuan dalam usaha-usahanya tidaklah puas hanya dengan cara yang serba kebetulan saja, melainkan berusaha pula mencari jalan tertentu untuk mempermudah diri dalam upaya mencapai tujuannya. Pengetahuan berjalan menurut metode tertentu, karena itu pengetahuan di sebut itu disebut mempunyai metode-metode atau approuch (pendekatan). Pendekatan berarti sekumpulan dari teori, metode dan teknik penelitian. Manusia terus berupaya agar pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, serta hasil-hasilnya di kumpulkan dengan susunan tertentu pula sehingga semuanya itu merupakan keseluruhan yang tersusun dengan teratur yang disebut sistem.
Menurut Praja (2005: 9) menyatakan bahwa pada dasarnya pengetahuan bersumber kepada tiga macam sumber, yaitu: Pertama, pengetahuan yang langsung diperoleh; Kedua, hasil dari suatu konklusi; dan Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari kesaksian dan otoritas. Pengetahuan langsung diperoleh dari dua sumber: sumber external (luar) dan sumber internal (dalam). Pengetahuan konklusi ialah pengetahuan yang diperoleh melalui penarikan kesimpulan dari data empirik atau inderawi. Pengetahuan kesaksian dan otoritas adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian dari orang lain atau berita orang yang bisa dipercaya. Filsafat dan ilmu pengetahuan kedua-duanya menggunakan metode pemikiran reflektif dalam usaha untuk menghadapi fakta-fakta dunia dan kehidupan. Keduanya menunjukkan sikap kritik, dengan pikiran terbuka dan kemauan yang tidak menihak, untuk mengetahui hakekat kebenaran. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar